- pemberhentian -

bukan berarti berhenti atau telah sampai pada tujuannya, namun mencoba untuk mencari makna dan melihat kembali perjalanan yang telah dilakukan selama ini.
Mencoba untuk belajar dari setiap langkah yang terangkum dalam gambar.
Tampilkan postingan dengan label yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label yogyakarta. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Januari 2014

Hiking Lereng Gunung Merapi - Kaliadem

Sudah lama. Ya, sudah lama sekali aku gak jalan-jalan dan posting foto di blog yang udah karatan ini. Bukan gara2 selesein kuliah tapi gara2 masuk latihan fotografi ala "militer"..hehehe.. Aku sendiri gak tau persis apakah belajar foto lagi secara intensif kemarin menambah kemampuan atau justru hanya membuang waktu. Akhir tahun kemarin sepertinya cukup menjadi sebuah ketidakjelasan buatku. Kerja enggak, nyelesein skripsi enggak, jalan-jalan enggak, motret juga jarang. Absurd. #malahcurhat

Mungkin bener ya kalo orang bilang "Jogja itu ngangenin". buktinya aja beberapa temen kemaren pulang Jogja padahal udah gak ada urusan yang penting-penting amat disini, gak semua sih. Yang pasti aku dan temen2 yang masih berjuang dan hidup di Jogja musti jadi host buat nemenin mereka jalan, ngasih apdet2 terbaru tentang perkembangan Jogja, emmm...kebanyakan jg jadi nostalgia sih. Salah satunya adalah mas Calvin a.k.a Toink seorang sarjana, admin, surfer, fotografer traveller idola wanita. Buat aku mungkin dia yang pertama kali ngajarin motret. Salam super guru. :)

-klik fotonya untuk memperbesar-

Dapet cuaca cerah di penghujung tahun rasanya jadi sebuah berkah yang sayang kalo gak digunain buat jalan-jalan. Ceritanya berawal ketika sehari sebelum ke Kaliadem aku dan beberapa temen pergi ke Temanggung. Sepanjang perjalanan Gunung Merapi rasanya tuh manggil-manggil terus, cuaca cerah sampai sepuncak-puncaknya merapi tu kelihatan. Akhirnya berdua aja dengan Toink sepakat kalo esok paginya kita musti berangkat apapun yang terjadi. 

Jam 5 pagi tet! Toink dengan kamera barunya udah nyamperin di rumah. awalnya tanpa rencana hampir saja kita ke Plawangan, Kaliurang atas rekomendasi mas Catur seorang pemuda setempat, juragan salak, pemberi kredit bank, juga sekaligus juragan mobil. Namun, di tengah jalan kita ubah haluan menuju Kaliadem. 



Kaliadem saat ini sudah menjadi sebuah wisata gunung berapi yang banyak dikenal dengan Lava Tour. Wisatawan dapat menyusuri hutan dan bekas aliran lahar dan awan panas yang menyapu wilayah ini pada letusan tahun 2010. Namun, aku dan mas Toink waktu itu ketika sampai langsung jalan kaki menuju ke tempat dimana kita bisa mendapatkan best spot untuk memotret. Sementara itu Catur meyusul dari rumahnya dan bertemu di dekat rumah alm. Mbah Maridjan. sampai di ujung jalan kita bingung harus lewat mana ya, sampai kita tanya salah seorang guide yang menyarankan untuk menyewa motor atau naik Jeep. 

Berbekal semangat muda kami pun akhirnya memilih untuk hiking, lagian waktu itu masih cukup pagi dan cerah. Gak salah pilihan kami, banyak hal2 menarik yang kami temui di tengah perjalanan(meskipun fotoya gak ditayangin tapi percaya aja ya :p). Sesampainya di spot terakhir Kaliadem, kami pun langsung berpencar sibuk dengan kamera dan gadget kami masing-masing seperti wisatawan pada umumnya. Selesainya dari Kaliadem aku dan Toink pulang sarapan Soto Lamongan di lembah UGM. Semoga nanti, entah kapan aku juga bisa posting kulineran di Jogja. 

Yaah..mungkin hiking singkat di Kaliadem ini bisa jadi pengingat kalo aku harus berjuang lebih keras buat menyelesaikan keinginan-keinginan yang belum kesampaian. Mengejar cita-cita yang gak tau harus dibawa kemana. Tapi aku sendiri yakin kuasa Tuhan pada diriku cukup besar. Amin. :)




Kamis, 13 Desember 2012

Ketenangan di Atas Bukit

HehoHeho! :)

Satu lagi nih tempat buat nyantai yang asyik. Di sebuah bukit yang kalo kita kesini bisa lihat candi Prambanan dan Gunung Merapi yang jadi ikon Yogyakarta. Selama tinggal di kota ini sih sebenernya udah beberapa kali kesini. Tapi baru kali ini kayaknya aku bisa merasakan bedanya candi-candi yang ada di sekitaran Yogyakarta. Biasanya kalo diajak kesini ya tujuannya tuh buat motret sunset yang katanya sih salah satu spot yang terbaik. Makanya kalau datang biasanya ya sore jam 4 atau 5an gitu trus nunggu matahari turun hilang ditelan cakrawala. Rasanya seperti rugi dan biasa aja kalo dateng kesini cuma buat ngliat satu spot aja. seriusan. Jadi langsung aja aku sarankan kalo mau nikmatin Candi Ratu Boko alokasikan waktu kira-kira 3 jam buat menjelajahi semua area candi ini.

Candi Ratu Boko

Ceritanya berawal dari duo dari Bandung yang salah satunya saudara dari temen di Jogja. waktu diajakin sih udah kebayang rasanya kalo ke Istana Ratu Boko tuh sedikit malas gara-gara beberapa kali dateng kesini gak bisa nikmatin bagusnya karena luasnya area candi ini. Hampir seluruh puncak bukit di desa Bokoharjo ini adalah area candi.
Meskipun gak semegah Candi Borobudur tapi sepertinya candi yang satu ini ternyata memiliki daya tarik yang asoy. Pertama, kita bisa lihat Candi Prambanan dan sekitarnya dengan latar belakang Gunung Merapi(kalau cerah). Kedua, kita bisa menyaksikan romantisnya Jogja lewat sunsetnya. Yang Ketiga dan ini yang paling asyik adalah kita bisa menenangkan diri sembari beristirahat di beberapa spot areal candi.





Waktu itu hari emang sedikit mendung, tapi karena acaranya adalah "menemani" tetep harus berangkat. Kami berangkat pukul 10 pagi, berharap bisa mendahului hujan membasahi candi ini. Candi Ratu Boko memang biasa disebut dengan Istana Ratu Boko. Usut punya usut memang candi ini digunakan untuk tempat tinggal seorang Prabu. Salah satu keunikannya adalah adanya perpaduan antara corak Hindu dan Budha dalam candi ini.  Kalau ingin tau sejarahnya lebih dalam bisa ditanyakan sama Om Google.

Areal candi ini begitu luas, bahkan dari awal pintu masuk menuju gerbang utama candi bisa keringatan kalo gak biasa jalan karena cukup panjang dan sedikit naik. Yang mengagetkan buat aku waktu itu adalah ternyata gak semua orang yang mampir ke candi ini menelusuri seluruh area istana. Banyak wisatawan cuma datang sampai gerbang utama candi yang memang jadi ikon candi yang juga spot sunset. mereka datang foto-foto narsis sebentar dan pulang lagi. Buat aku ini sebuah pemborosan! Masa 25ribu cuma segitu doang. Tapi kalo maunya gitu ya udah sih, gak nglarang juga :)

Justru dari kejadian itu aku jadi sadar, pasti ada hal lain disini. Setelah berkeliling-keliling seniri gak jelas meninggalkan rombongan temenku barulah aku ngrasain tenangnya candi ini, ada bunga-bunga dan kupu-kupu kecil yang lumayan banyak. reruntuhan candi yang memang belum sempat dipugar jadi seperti tempat rehat yang begitu sejuk. Beberapa kambing warga sekitar yang sedang makan rumput hijau. Pemandangan bukit yang damai dan menenangkan. Semuanya begitu harmonis tersaji di area Istana Ratu Boko.


 -Click the Image for actual size-

Rasanya seperti dibawa ke sebuah alam lain dimana kita bisa membuang pikiran kita dan hanya menikmati suasana yang ada di bukit ini. Barangkali Istana Ratu Boko memang dibangun untuk sebuah alasan yaitu peristirahatan. Terlepas dari banyaknya mitos yang disematkan pada candi ini, kita sepertinya perlu belajar untuk memberikan waktu untuk "menikmati" dan "melihat" hal yang ada di sekitar kita. Bersikap tenang dan mampu menarik diri dari kekalutan yang sedang terjadi. Jika perlu menertawakan diri sendiri :)

Sabtu, 03 November 2012

Jogja - Klaten via Gunung Kidul

Gak banyak kota besar di Indonesia, kalo emang mau nyebutin juga paling hafalan..Jakarta, Bandung, Surabaya, trus Yogyakarta ya selanjutnya banyak sih tapi aku yakin gak perlu pake survey juga orang-orang bakal nyebutin kota-kota diatas. Disebut kota besar biasanya sih gara-gara aktivitasnya, bisa kerjaan, bisnis atau lainnya seperti wisata, dan geografisnya. Nah satu hal yang menarik dari kota besar adalah pasti ada yang namanya "penglaju" atau "commuter". Mereka-mereka inilah yang mesti banting tulang alias bolak-balik ke kota tiap harinya supaya kota itu jadi besar.

Kota Yogyakarta, kota besar dimana aku berada sekarang adalah kota yang cukup bnyak menarik orang-orang daerah sekitar untuk beraktivitas disini entah buat kerja atau belajar, sebut aja Klaten, Magelang, Bantul, Gunung Kidul, dst. Karena aku dari Klaten sebenernya cocok juga jadi penglaju. Nah eksotbedanya kalo aku nih gak tiap hari pulang, jadi gak bisa dibilang "penglaju". Meskipun jarak Jogja-Klaten cuma sekitar 20an km dan bisa dibilang jalannya lurus doang tapi ternyata bisa lho jadi asik! hahaha

Beberapa hari kemaren, pas libur ada temen yang ngajak buat keluar dari kota. Entah kemanapun tujuannya yg penting pergi dari jogja. Akhirnya terpilihlah Wonosari, alias Gunung Kidul. Ngeliat daftar pantai yang katanya eksotis itu akhirnya kita mulai dari yang paling jauh, Pantai Wedi Ombo. Pantai satu ini punya cerita sendiri karena udah 2x kesana slalu gagal gara2 kecelakaan yg . Kali ini aku punya ambisi lebih untuksampai kesana! Jalanan disini emang sedikit asoy, kalo anak muda pasti bawaannya pengen ngebut kayak Jorge Lorenzo.
Sepi dan berkelok-kelok dikelilingi bukit-bukit kecil khas jalanan Gunung Kidul :D
Dengan hati-hati dan penuh harapan untuk sampai di tujuan, akhirnya sampailah aku di pantai Wedi Ombo. Oia, untuk masuk ke pantai kita perlu masuk kita perlu bayar retribusi Rp 2500,-/orang. Hati-hati di tikungan terakhir yang cukup curam.

Bener aja pantai ini emang asoy bener! pantai pasir putih dengan karang-karang yang keren! Sayang sekali waktu itu aku samapi jam 12 siang. Tapi bagaimanapun juga karena ngakunya fotografer, mau gak mau aku mesti motret juga, kapan lagi kan kesini. bukannya gak seneng motret pantai, tapi aku sih ngrasa gak bisa bagus kalau motret pantai rasanya hambar semua. Tapi kalo para landscaper sejati pasti pantai ini bagaikan taman bermain yang sangat asyik, apalagi kalo datengnya jam 4 keatas. Aku sendiri karena dah kehabisan akal gimana bikin foto yg beda karena alat terbatas dan momen yg kurang tepat, bikin foto yg vertikal aja.
 



Setelah beberapa kali jepretan kamera, kami cuma bisa habisin waktu dengan tidur2an di bawah pohon besar. Rindangnya pohon dan angin pantai adalah kombinasi yang sangat pas buat tidur, itupun masih ditambah pasir putih yang cukup kering tapi adem yang bikin lupa waktu kalo udah tiduran. Akhirnya setelah sekitar 3 jam "liyer-liyer" kita memutuskan buat pergi lagi, tapi suasana yg cukup tenang disana bikin aku juga pengen pulang Klaten. Jadi kepikiran rumah gitu, tapi gara2 udah terlanjuur di pucuk Gunung Kidul ya apa boleh buat. Perjalanan mesti dilanjutkan.

Rencananya sih ke Sri Gethuk, tapi ketika dijalan keluar dari Wedi Ombo kita ngeliat ada PLIK, teringat ada satu  lomba foto yg berkaitan aku langsung berhenti minta ijin buat motret ke pengelolanya, mas Handoko. eh ternyata kita justru diajak ngobrol lama, sampai pada saat kehabisan topik pembicaraan. Topik umum yang adalah nanya2 jalan atau daerah setempat. Tanpa disangka-sangka, eh ternyata Klaten katanya lebih deket dari sini daripada ke Jogja!! Seakan diberi kesempatan, sampai lupa motret, pikiran cuma tertuju kalo perjalanan bisa dilanjutin ke rumah :D 


Akhirnya perjalanan dilanjutkan ke Klaten :D

Kata masnya sih tinggal ikutin arah, intinya ita mesti lewatin Semin dan langsung menuju Klaten. Seperti dibohongi tapi juga selalu ada harapan di depan. kami lanjut aja yang penting nikmatin perjalanan apapun tujuannya. Goal kita masih tetap sama. Kesan yang aku dapat melewati jalanan Gunungkidul-Klaten adalah jalanan ini lebih sepi tapi lebih yahud pemandangannya kalo emang pengen hunting foto yang gak umum sebenernya bisa aja berhenti trus motret dulu tapi kayaknya waktu itu rumah seperti udah di depan mata. Jalan terus.

Sekitar dua jam kemudian saat badan mulai capek dan perut mulai lapar. Akhirnya kita sampai di perbatasan antara Gunung Kidul dan Klaten lebiih tepatnya di daerah Cawas. Waktu itu matahari cukup cantik menemani perjalanan kami. Sampai akhirnya aku bener-bener tergoda untuk berhenti menikmati sunset dulu ketika kendaraan yang kami tumpangi melewati hamparan sawah.

Jalan antar desa yang begitu eksotis, seperti mengatakan "Perjalananmu masih jauh, nak!"

Sunset yang cukup bikin pikiran kembali segar. Seorang kakek dengan sepedanya seakan mengingatkan kita untuk pulang juga.

Langit memang cerah waktu itu, sedikit berawan namun justru menambah keindahan ciptaan Tuhan. Sunset menjadi ucapan selamat datang di Klaten saat itu, sekaligus mengingatkan kalo aku ini belum sampai rumah. Dengan kesabaran sampai harus beberapa kali bertanya pada penduduk sekitar untuk menuju ke rumah (maklum aku orang Klaten yang kurang kenal Klaten) akhirnya aku sampai di rumah sekitar jam delapan malam. Cukup molor dari perkiraan waktu sebelumnya tapi capek sepertinya hilang kalo udah sampai rumah.

Pengalamanku pulang lewat Klaten lewat Gunung Kidul kalo dipikir-pikir memang asyik juga. Banyak hal yang gak kita tahu dalam perjalanan kita mencapai tujuan, bahkan akhir dari perjalanan bisa saja berubah dari yang kita rencanakan sebelumnya. Namun cara dan sikap untuk melalui setiap proses menjadi kunci untuk mencapai keniscayaan akhir yang manis.

Kamis, 28 Juni 2012

Sepedulanguh



Sepedulanguh, Perjuangan Perempuan Pendulang Timah
Sekelompok perempuan pendulang bertahan penuh tangguh. 
Mengais butir-butir kehidupan, walu sadar kini alam semakin mengeluh
Oh..Sepedungaluh.

Penata Tari : Erliza Furi
Penari : Agnes, Dila, Husnul, Mima, Vivi


















Selasa, 26 Juni 2012

Rouk Betino



Sinopsis; Terinspirasi dari kain yang digunakan oleh perempuan Melayu Riau sebagai busana tradisi. Pada karya ini, kain diibaratkan dengan sebuah rok dari panjang kain/rok dapat dilihat status perempuan yang telah menikah dan yang masih gadis. "Ghaso Ati inilah Mak dan Aku, bebalutkan Rouk Betino ati nan jaouh"

Penata tari : Merlia Atika
Penari : Mega Lestari, Yogta Gita A, Khorunnisa, Ayu Permata S, Mei Ariyanti, Ari Kusuma N, Aprilia W.















Senin, 11 Juni 2012

Saatnya Herbal

Pernah gak dapet tawaran ikutan eMeLeM sama temen kamu sendiri??? Yakin deh, setidaknya sekali dalam seumur hidup pasti pernah entah sama temen, keluarga sndiri atau orang yang gak dikenal sekalipun. Sejak SMA mungkin udah lebih dari itungan jari dua tangan. Contohnya gini : pura-puranya temenku, sebut aja Tian, dia cerita kalo mau ngrintis usaha jualan trus diundanglah aku ni katanya sih minta dukungan biar bisa jalan bareng, keuntungannya ntar bisa di share bareng2 tiap periode. Tertariklah aku dan keesokan harinya memutuskan buat ketemu. ternyata oh ternyata, bukan temenku sendiri yang nemuin tapi orang lain yang katanya itu partner dia. Singkat cerita (udah tau kan?!!) ditawarin gaji, rumah, bahkan sampe kapal pesiar dan blablablabla....
Itu cuma satu contoh, Selain Tian pangkat 1, masih ada tian pangkat 2, tian pangkat 3 ada juga si Herbi, si Ceni, si Propi, si Keling dan lain2..anehnya, orang2 sekitarku ada aja yang namanya sama.


Jamu Segar bikin Bugar :D


Sudahlah, bukan itu masalahnya, urusan rejeki sudah jalan pilihan masing-masing tapi kalo mau hidup sehat ya gak ada yang salah kok. Inilah pilihanku : JAMU :) Yakin deh, kalo orang jawa pasti tau yang namanya jamu. Ramuan tradisional yang diracik dari berbagai macam bahan alami.

Sebenernya sama juga aku nawarin produk kesehatan, tapi yang ini juga bisa dijadikan tempat nongkrong yang beda dari yang biasanya.Tepatnya jamu Ginggang, tepatnya terletak di Jalan Masjid di daerah Puro Pakualaman, Yogyakarta. Susur telusur warung jamu ini udah ada sejak tahun 1940-an. Kalo mau tau lebih lanjut mampir aja langsung atau searching datanya juga banyak kok :p. 

Memang sih buat kamu-kamu yang seumuran sama aku mungkin denger kata "jamu" aja pasti dah parno sendiri. Bayangannya paitlah, jijiklah, ato mual kalo minum dan seterusnya dengan alasan yang gak disertai pengalaman mumpuni tentang jamu. Makanya kalian, yang kuliah di jogja mesti nyobain menu yang ada disini. aku dah ngajakin sekitar 10 orang temen yang awalnya gak minat jadi suka! Beneran nih gak bo'ong! 
  
Buktiin kalo anak muda jaman sekarang punya semangat menerima warisan budaya asli Indonesia :D. Yang kuliah di Jogja, ngomongnya pergerakan jangan sungkan buat minum jamu kan pastinya. Apalagi ini jamannya emang semakin modern, percaya gak percaya tindakan sosial masyarakat terhadap kesehatan udah berubah lho(Sosiologinya keluar..heehe). Orang semakin "takut " akan masa depan dunia/ bumi atau dengan kata lain orang ingin hidup lebih lama di bumi yang semakin parah kondisinya. Makanya mari kita beralih ke herbal! 

Oia ada tips khusus kalo emang pengen beralih ke cara hidup herbal. Perlu diketahui manfaaat dari bahan herbal itu gak bisa langsung keliahatan bagi tubuh kita, apalagi untuk jangka panjang. Mesti sabar dan yang paling penting untuk dicatat adalah RUTIN. Maksudnya rutin bukan tiap hari mesti minum lho, tapi buatlah waktu khusus untuk mengkonsumsi bahan2 herbal. Misalnya seminggu sekalli, atau tiga hari sekali gitu. Memang sih lebih rutin lebih bagus tapi tau gak kalo tubuh kan juga butuh adaptasi makanya mari kita bikin jadwal khusus buat hidup alami  dengan herbal. :)



Sayang sekali anak muda ini gak ngikutin kebiasaan ortunya



Selalu sedia demi kesehatan anda




gak perlu tiap hari kok, yg penting rutin!



jamu pun menyesuaikan selera anak muda :D

Selasa, 05 Juni 2012

Kala Terik Menyengat

Meskipun gak jelas juga sih kapan hujan kapan panas tapi rasanya matahari emang gak pernah bosan membakar kulit dan menguras cairan tubuh. Kalo situasinya udah terik yakin deh, gak di rumah, gak dijalan gak di kampus(kayak rajin ke kampus aja.. -_-') bawaannya pasti pengen nyantai sambil minum es seger.

Keinget baru kemaren mampir ke warung ini jadi pengen kasih referensi  salah satu warung es favoritku di Jogja. Warungnya kecil, sedikit mblusuk dan bisa dibilang jadul atau bahasa kerennya sih "vintage". Namanya warung YS Sidosemi! Menurut cerita, ini warung emang patut diacungi empat jempol. Ada fakta-fakta unik di tempat ini; pertama warung ini tutup tiap hari Selasa, kedua selain menyediakan menu es warung ini juga sedia tepas, ketiga warung ini banyak digemari sama orang2 yang udah paruh baya. Selanjutnya silahkan mampir :p


Kalo mau tau ceritanya nih >> liputan pertama kerja di portal ini :)

Oia mungkin juga aku belum pernah cerita ke banyak orang kalo sejak januari tahun ini punya kerjaan nyotret buat salah satu portal wisata di Jogja.

Warung YS Sido Semi mBok Mul
Enak kalo habis gowes mampir :D


Daftar menu dan harga, murah kan? itu dulu :p

Daftar Harga dari tahun ke tahun masih tersimpan rapi :)


Es serut paling bikin seger



menu utamanya nih, sederhana tapi seger puas :D


Pesen es teh pun juga seger 


Limun, karat di tutupnya nambah suasana makin jadul. tapi isinya gak karatan kok :) 

Suasana warung dari balik jendela
Kipas, teman di kala panas


Tembok jadi rak pengering gelas














Jumat, 25 Mei 2012

Hidup dan Menghidupi Tobong


*Ketoprak Tobong, 20 Maret 2011 belum pernah dipublikasikan >> masih belajar bikin foto cerita/ esai foto




Lakon 20 April 2011 : Joko Tarup


Sore itu hujan deras mengguyur Yogyakarta, namun hal ini tidak mempengaruhi persiapan para seniman panggung Kelana Bhakti Budaya melakonkan judul “Joko Tarub”. Hujan mulai berhenti tapi genangan air tampaknya masih terlihat disekitar panggung kethoprak tobong yang letaknya berada di tanah kosong di area persawahan Kalasan.


Last Preparation



Dandan

Memoles Watak
Siap


Pukul 19.00 atau dua jam sebelum pementasan dimulai para pemain biasanya sudah berkumpul di belakang panggung untuk mempersiapkan segala kesiapan pementasan yang dilakukan dua kali dalam seminggu, hari Rabu dan Minggu. Diawali dengan brief singkat mengenai alur cerita yang dimainkan, merias wajah masing-masing, hingga menyiapkan setting panggung dilakukan dalam. Satu per satu penonton yang mayoritas warga setempat pun mulai berdatangan oleh iringan gamelan yang sengaja dimainkan sebagai pertanda bahwa pentas telah siap untuk disaksikan.

Penonton juga disambut dengan rasa kekeluargaan dari pihak Kelana Bhakti Budaya. Mereka tidak dikenai biaya tiket namun disediakan satu kotak sukarela di loket masuk tobong. Beberapa pegiat tobong mengatakan pertunjukan mereka adalah pentas amal. Dari hasil sekali pentas pun pemain bisa saja hanya dibayar sama rata Rp 2.000,-/orang. Dalam kesederhanaan inilah mereka berjuang demi seni. Mereka hidup dan menghidupi ketoprak tobong.

Sinden
Tokoh di Balik Layar

Prolog

Joko Tarup Beraksi


Totalitas

Akhir Cerita

Kelana Bhakti Budaya merupakan nama dari kethoprak tobong yang dibina oleh bapak Dwi Tartiyasa. Tobong sendiri bisa diartikan dengan wadah yang terbentuk dari bambu. Memang kelompok panggung ini memiliki keunikan tersendiri yakni panggung telah menjadi rumah bagi para senimannya. Pada dasarnya panggung mereka bukanlah panggung permanen namun dapat dipindahkan kapanpun. Ketoprak tobong ini merupakan satu-satunya yang ada di Yogyakarta, meskipun kabarnya di daerah Kediri juga masih ada. Tobong hanya salah satu dari kesekian banyak kesenian Indonesia yang ingin bertahan oleh perkembangan zaman


After Perform