- pemberhentian -

bukan berarti berhenti atau telah sampai pada tujuannya, namun mencoba untuk mencari makna dan melihat kembali perjalanan yang telah dilakukan selama ini.
Mencoba untuk belajar dari setiap langkah yang terangkum dalam gambar.
Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 April 2014

Lagi-Lagi Bukit Sikunir

Tampaknya aku mulai terbiasa dan akrab dengan tempat ini, bukit yang katanya memiliki pemandangan sunrise yang paling cantik. Meskipun ini baru yang kedua kalinya, mungkin dulu kesan pertama di Sikunir ada mbak-mbak rupawan yang mencuri perhatian hahaha..

(klick photo for actual size)

Sudah banyak perubahan di tempat ini, sepertinya bukit sikunir saat ini sudah menjadi salah satu tujuan utama di daerah Dieng gak cuma buat orang-orang yang doyan adventure tapi juga sudah lebih umum. Secara untuk naek sampai puncak tidak butuh waktu banyak dengan kondisi badan yang sehat dan kuat seperti aku. Selain itu saat ini tampaknya juga ada beberapa puncak selain puncak Sikunir yang bisa dijadikan pemberhentian terakhir untuk menyambut matahari terbenam. Aku dan teman-teman menuju puncak yang pernah kita datangi.

Yah mungkin karena mencapai puncak aja gak perlu banyak waktu, ya cerita perjalanannya dikit aja..heehe. Oia ada yang baru lagi di bukit Sikunir yaitu penjual kopi dan mie seduh yang setidaknya bisa memberikan sedikit kehangatan buat yang gak punya pasangan. dan satu lagi yaitu ada sebuah gubuk di puncak yang paling gak kalo bikin foto gak plain atau flat komposisinya meskipun secara fungsi sih hampir gak ada waktu itu. mungkin cuma buat situasi dan kondisi tertentu.





Kali ini yang berbeda dari perjalanan ini bukan Sikunirnya sih sebenernya, tapi suasana hati..tjieeee..Yah gak bisa dipungkiri lagi dan jujur saja aku galau gara-gara kewajibanku sebagai anak ketiga dari orang tuaku yang gak kunjung kukerjakan, yaitu kuliah. eh aku masih beruntung bisa kuliah banyak orang yang gak bisa kuliah ni aku malah seperti menyia-nyiakan waktu.  Tapi setiap kali cerita ke orang sih dibilang waktuku gak sia-sia, buat orang lain aku mendapat gantinya. tapi apalah kata orang, ini kan curahan perasaanku. kalo saat ini sih ya mungkin terasa sia-sia karena aku seakan harus meninggalakan fokusku pada dunia fotografi. :(

Kalau dulu semua anggota rombongan berstatus mahasiswa, sekarang teman-temanku banyak yang telah melangkahkan kakinya terutama hal akademis. Ya, lagi-lagi harus disampaikan sampai detik ini aku masih aja berstatus pelajar. Kabar gembiranya tentu saja dalam perjalanan kali ini aku juga sudah memulai tugas akhir kuliah.

Hampir kecewa saat matahari mulai muncul di puncak bukit Sikunir. Angin yang cukup kencang disertai kabut seakan-akan membayangi kerinduan kami akan kehangatan matahari. Entah mengapa saat itu aku pun juga hanya ingin satu foto saja yaitu saat matahar terlihat benar-benar bulat. Mungkin saja perjalanan kali ini juga ingin mengingatkan aku pada sebuah tujuan yang ingin kucapai. Perjalanan sikunir kali ini mengawali semangat dalam menyelesaikan yang sudah tertunda cukup lama, aku berdoa hasilnya juga seindah sunrise yang terbit di Sikunir waktu itu. silakan dinikmati foto-fotonya

Ada kopi plus mie seduh yang siap menghangatkan badan
di atas puncak sob, jadi jangan lupa bawa uang kalo
 males bawa bekal :) 




Minggu, 19 Januari 2014

Hiking Lereng Gunung Merapi - Kaliadem

Sudah lama. Ya, sudah lama sekali aku gak jalan-jalan dan posting foto di blog yang udah karatan ini. Bukan gara2 selesein kuliah tapi gara2 masuk latihan fotografi ala "militer"..hehehe.. Aku sendiri gak tau persis apakah belajar foto lagi secara intensif kemarin menambah kemampuan atau justru hanya membuang waktu. Akhir tahun kemarin sepertinya cukup menjadi sebuah ketidakjelasan buatku. Kerja enggak, nyelesein skripsi enggak, jalan-jalan enggak, motret juga jarang. Absurd. #malahcurhat

Mungkin bener ya kalo orang bilang "Jogja itu ngangenin". buktinya aja beberapa temen kemaren pulang Jogja padahal udah gak ada urusan yang penting-penting amat disini, gak semua sih. Yang pasti aku dan temen2 yang masih berjuang dan hidup di Jogja musti jadi host buat nemenin mereka jalan, ngasih apdet2 terbaru tentang perkembangan Jogja, emmm...kebanyakan jg jadi nostalgia sih. Salah satunya adalah mas Calvin a.k.a Toink seorang sarjana, admin, surfer, fotografer traveller idola wanita. Buat aku mungkin dia yang pertama kali ngajarin motret. Salam super guru. :)

-klik fotonya untuk memperbesar-

Dapet cuaca cerah di penghujung tahun rasanya jadi sebuah berkah yang sayang kalo gak digunain buat jalan-jalan. Ceritanya berawal ketika sehari sebelum ke Kaliadem aku dan beberapa temen pergi ke Temanggung. Sepanjang perjalanan Gunung Merapi rasanya tuh manggil-manggil terus, cuaca cerah sampai sepuncak-puncaknya merapi tu kelihatan. Akhirnya berdua aja dengan Toink sepakat kalo esok paginya kita musti berangkat apapun yang terjadi. 

Jam 5 pagi tet! Toink dengan kamera barunya udah nyamperin di rumah. awalnya tanpa rencana hampir saja kita ke Plawangan, Kaliurang atas rekomendasi mas Catur seorang pemuda setempat, juragan salak, pemberi kredit bank, juga sekaligus juragan mobil. Namun, di tengah jalan kita ubah haluan menuju Kaliadem. 



Kaliadem saat ini sudah menjadi sebuah wisata gunung berapi yang banyak dikenal dengan Lava Tour. Wisatawan dapat menyusuri hutan dan bekas aliran lahar dan awan panas yang menyapu wilayah ini pada letusan tahun 2010. Namun, aku dan mas Toink waktu itu ketika sampai langsung jalan kaki menuju ke tempat dimana kita bisa mendapatkan best spot untuk memotret. Sementara itu Catur meyusul dari rumahnya dan bertemu di dekat rumah alm. Mbah Maridjan. sampai di ujung jalan kita bingung harus lewat mana ya, sampai kita tanya salah seorang guide yang menyarankan untuk menyewa motor atau naik Jeep. 

Berbekal semangat muda kami pun akhirnya memilih untuk hiking, lagian waktu itu masih cukup pagi dan cerah. Gak salah pilihan kami, banyak hal2 menarik yang kami temui di tengah perjalanan(meskipun fotoya gak ditayangin tapi percaya aja ya :p). Sesampainya di spot terakhir Kaliadem, kami pun langsung berpencar sibuk dengan kamera dan gadget kami masing-masing seperti wisatawan pada umumnya. Selesainya dari Kaliadem aku dan Toink pulang sarapan Soto Lamongan di lembah UGM. Semoga nanti, entah kapan aku juga bisa posting kulineran di Jogja. 

Yaah..mungkin hiking singkat di Kaliadem ini bisa jadi pengingat kalo aku harus berjuang lebih keras buat menyelesaikan keinginan-keinginan yang belum kesampaian. Mengejar cita-cita yang gak tau harus dibawa kemana. Tapi aku sendiri yakin kuasa Tuhan pada diriku cukup besar. Amin. :)




Minggu, 25 November 2012

Menikmati Keselarasan Borobudur

Entah apa yang ada di pikiran si arsitek Candi Borobudur waktu itu ya, bisa-bisanya kepikiran bikin candi segede ini. Gak cuman gede doang tapi juga punya nilai seni tinggi, bahkan dari kejauhan sekalipun. Selain bagus pun juga punya makna yang sangat dalam.

Para Pemburu Kabut :p


Beberapa hari kemarin kebetulan diajakin temen ke Bukit Punthuk Setumbu, langsung aja aku mau, diajakin jalan siapa juga yang gak mau. Meskipun sebenernya tau juga sih bukan waktu yang tepat untuk kesana. Bener aja pas sampai disana langit emang sedang mendung. Seandainya aja dateng pas bulan Juli-Agustus dijamin pasti keren banget, gak cuman liat Candi dari atas doang tapi kita juga bisa ngeliat matahari terbit dari antara Gunung Merapi dan Merbabu!

Munurutku salah satu dari kunci kemegahan Mahakarya Borobudur adalah kejelian si Arsitek, konon oleh Gunadarma, yang ngeliat potensi dari dataran yang dipilih. Sepanjang perjalanan kelihatan kalo daerah ini merupakan dataran subur yang ditinggali masyarakat Jawa yang sangat dekat dengan kehidupan agraris. Hal ini mengisyaratkan bahwa pembangunan Borrobudur begitu diperhitungkan. Baik dari hasil akhir maupun perencanaan dan proses pembangunannya.


Tidak heran kalo menuju bukit ini, petunjuk yang bakal kita baca adalah "Borobudur Nirwana Sunrise". Membayangkan berada di bukit ini sendirian menikmati keheningan pagi seakan menjadi seorang raja yang telah mencapai titik tertinggi. Jadi kepkiran mungkin aja Raja Samaratungga waktu itu memang lagi di Punthuk Setumbu sebelum memutuskan untuk membangun sebuah candi.  Entah baru bertapa atau camping, sang Raja dapat inspirasi untuk menunjukkan kepada semua umat manusia bahwa ada tingkatan tertinggi di bumi ini. Maka dari itu Candi Borobudur dibangun tiga tingkat yaitu Kamadhatu(hasrat dan nafsu), Rupadhatu(bentuk), Arupadhatu(tanpa bentuk).

Keindahan Sunrise dari Punthuk Setumbu seakan mengajak kita untuk belajar bahwa hidup kita harus selaras dengan alam. Seandainya saja bisa melihat lengkap keindahan panorama dari sini kita pasti takluk akan kebesaran Tuhan. Candi Borobudur yang dibangun oleh manusia hanyalah melengkapi kebesaran Tuhan lewat alam yang sudah diberikan.

Click for actual size, enjoy!

Sabtu, 03 November 2012

Jogja - Klaten via Gunung Kidul

Gak banyak kota besar di Indonesia, kalo emang mau nyebutin juga paling hafalan..Jakarta, Bandung, Surabaya, trus Yogyakarta ya selanjutnya banyak sih tapi aku yakin gak perlu pake survey juga orang-orang bakal nyebutin kota-kota diatas. Disebut kota besar biasanya sih gara-gara aktivitasnya, bisa kerjaan, bisnis atau lainnya seperti wisata, dan geografisnya. Nah satu hal yang menarik dari kota besar adalah pasti ada yang namanya "penglaju" atau "commuter". Mereka-mereka inilah yang mesti banting tulang alias bolak-balik ke kota tiap harinya supaya kota itu jadi besar.

Kota Yogyakarta, kota besar dimana aku berada sekarang adalah kota yang cukup bnyak menarik orang-orang daerah sekitar untuk beraktivitas disini entah buat kerja atau belajar, sebut aja Klaten, Magelang, Bantul, Gunung Kidul, dst. Karena aku dari Klaten sebenernya cocok juga jadi penglaju. Nah eksotbedanya kalo aku nih gak tiap hari pulang, jadi gak bisa dibilang "penglaju". Meskipun jarak Jogja-Klaten cuma sekitar 20an km dan bisa dibilang jalannya lurus doang tapi ternyata bisa lho jadi asik! hahaha

Beberapa hari kemaren, pas libur ada temen yang ngajak buat keluar dari kota. Entah kemanapun tujuannya yg penting pergi dari jogja. Akhirnya terpilihlah Wonosari, alias Gunung Kidul. Ngeliat daftar pantai yang katanya eksotis itu akhirnya kita mulai dari yang paling jauh, Pantai Wedi Ombo. Pantai satu ini punya cerita sendiri karena udah 2x kesana slalu gagal gara2 kecelakaan yg . Kali ini aku punya ambisi lebih untuksampai kesana! Jalanan disini emang sedikit asoy, kalo anak muda pasti bawaannya pengen ngebut kayak Jorge Lorenzo.
Sepi dan berkelok-kelok dikelilingi bukit-bukit kecil khas jalanan Gunung Kidul :D
Dengan hati-hati dan penuh harapan untuk sampai di tujuan, akhirnya sampailah aku di pantai Wedi Ombo. Oia, untuk masuk ke pantai kita perlu masuk kita perlu bayar retribusi Rp 2500,-/orang. Hati-hati di tikungan terakhir yang cukup curam.

Bener aja pantai ini emang asoy bener! pantai pasir putih dengan karang-karang yang keren! Sayang sekali waktu itu aku samapi jam 12 siang. Tapi bagaimanapun juga karena ngakunya fotografer, mau gak mau aku mesti motret juga, kapan lagi kan kesini. bukannya gak seneng motret pantai, tapi aku sih ngrasa gak bisa bagus kalau motret pantai rasanya hambar semua. Tapi kalo para landscaper sejati pasti pantai ini bagaikan taman bermain yang sangat asyik, apalagi kalo datengnya jam 4 keatas. Aku sendiri karena dah kehabisan akal gimana bikin foto yg beda karena alat terbatas dan momen yg kurang tepat, bikin foto yg vertikal aja.
 



Setelah beberapa kali jepretan kamera, kami cuma bisa habisin waktu dengan tidur2an di bawah pohon besar. Rindangnya pohon dan angin pantai adalah kombinasi yang sangat pas buat tidur, itupun masih ditambah pasir putih yang cukup kering tapi adem yang bikin lupa waktu kalo udah tiduran. Akhirnya setelah sekitar 3 jam "liyer-liyer" kita memutuskan buat pergi lagi, tapi suasana yg cukup tenang disana bikin aku juga pengen pulang Klaten. Jadi kepikiran rumah gitu, tapi gara2 udah terlanjuur di pucuk Gunung Kidul ya apa boleh buat. Perjalanan mesti dilanjutkan.

Rencananya sih ke Sri Gethuk, tapi ketika dijalan keluar dari Wedi Ombo kita ngeliat ada PLIK, teringat ada satu  lomba foto yg berkaitan aku langsung berhenti minta ijin buat motret ke pengelolanya, mas Handoko. eh ternyata kita justru diajak ngobrol lama, sampai pada saat kehabisan topik pembicaraan. Topik umum yang adalah nanya2 jalan atau daerah setempat. Tanpa disangka-sangka, eh ternyata Klaten katanya lebih deket dari sini daripada ke Jogja!! Seakan diberi kesempatan, sampai lupa motret, pikiran cuma tertuju kalo perjalanan bisa dilanjutin ke rumah :D 


Akhirnya perjalanan dilanjutkan ke Klaten :D

Kata masnya sih tinggal ikutin arah, intinya ita mesti lewatin Semin dan langsung menuju Klaten. Seperti dibohongi tapi juga selalu ada harapan di depan. kami lanjut aja yang penting nikmatin perjalanan apapun tujuannya. Goal kita masih tetap sama. Kesan yang aku dapat melewati jalanan Gunungkidul-Klaten adalah jalanan ini lebih sepi tapi lebih yahud pemandangannya kalo emang pengen hunting foto yang gak umum sebenernya bisa aja berhenti trus motret dulu tapi kayaknya waktu itu rumah seperti udah di depan mata. Jalan terus.

Sekitar dua jam kemudian saat badan mulai capek dan perut mulai lapar. Akhirnya kita sampai di perbatasan antara Gunung Kidul dan Klaten lebiih tepatnya di daerah Cawas. Waktu itu matahari cukup cantik menemani perjalanan kami. Sampai akhirnya aku bener-bener tergoda untuk berhenti menikmati sunset dulu ketika kendaraan yang kami tumpangi melewati hamparan sawah.

Jalan antar desa yang begitu eksotis, seperti mengatakan "Perjalananmu masih jauh, nak!"

Sunset yang cukup bikin pikiran kembali segar. Seorang kakek dengan sepedanya seakan mengingatkan kita untuk pulang juga.

Langit memang cerah waktu itu, sedikit berawan namun justru menambah keindahan ciptaan Tuhan. Sunset menjadi ucapan selamat datang di Klaten saat itu, sekaligus mengingatkan kalo aku ini belum sampai rumah. Dengan kesabaran sampai harus beberapa kali bertanya pada penduduk sekitar untuk menuju ke rumah (maklum aku orang Klaten yang kurang kenal Klaten) akhirnya aku sampai di rumah sekitar jam delapan malam. Cukup molor dari perkiraan waktu sebelumnya tapi capek sepertinya hilang kalo udah sampai rumah.

Pengalamanku pulang lewat Klaten lewat Gunung Kidul kalo dipikir-pikir memang asyik juga. Banyak hal yang gak kita tahu dalam perjalanan kita mencapai tujuan, bahkan akhir dari perjalanan bisa saja berubah dari yang kita rencanakan sebelumnya. Namun cara dan sikap untuk melalui setiap proses menjadi kunci untuk mencapai keniscayaan akhir yang manis.

Senin, 10 September 2012

Mencari Kehangatan di Bukit Sikunir

Hello world! =)

Banyak orang bilang Juli - Agustus merupakan saat yang tepat untuk liburan, apalagi kalau pengen lihat sunrise ataupun sunset. Liburan kali ini aku bareng 7 temen sepakat buat camping, awalnya kita udah rencanain jauh2 hari biar bisa liburan bareng bulan Agustus tapi karena ada beberapa kesempatan buat kejar setoran akhirnya kita baru bisa berangkat awal September. Rencananya si ke Rawa Pening biar dapet sunrise oke kayak foto-foto yang pernah kita liat, selain itu juga bisa ngrasain yang namanya "mancing mania". Tapi akhirnya setelah kita sampai  tujuan dari rencana kita "angin" membawa kita untuk camping di daerah Dieng, tepatnya di tepi Telaga Cebongan.


Telaga Cebongan, Dieng


Kali ini kita emang gak mau camping yang biasa, kita pengen bener-bener heppan, dan lokasi camping kita kali ini emang mampu membayar apa yang ada dalam bayangan kita sebelumnya jauh dari ekspetasi kita di rawa pening. Bener aja kita bisa mendirikan tenda di pinggir telaga yang lokasinya tidak terlalu jauh dari pemukiman warga namun cukup bisa memberikan kebebasan untuk bersenang-senang.

Tempat ini pun seakan menawarkan sunrise yang menakjubkan seperti yang diceritakan banyak warga yaitu di Bukit Sikunir. Puncak bukit ini bisa ditempuh sekitar 45 menit dari lokasi kita camping. Kami pun tidak ingin ketinggalan menikmati indahnya sunrise dari puncak Sikunir. Kami berangkat pukul 04.00 dari Telaga Cebongan.
Pemandangan Gunung Sindoro dari Puncak Bukit Sikunir
Ramai-ramai mengabadikan Sunrise Sikunir

Ternyata memang bukan hanya rombonganku aja yang pengen liat fajar dari puncak ini, bahkan bisa dikatakan sangat rame. Maklum kita pergi bertepatan sama weekend. Bahkan ada beberapa rombongan yang mendirikan tenda di puncak bukit, mungkin saja mereka tidak ingin berjudi dengan kemalasan karena begitu dinginnya udara di Dieng. Kadang emang dingin bisa buat kita jadi malas untuk ngapa2in termasuk melihat sunrise. Perlu diketahui, satu temen batakku malas ikut ke puncak dan memilih tidur di tenda karena dingin. Ngomong-ngomong soal dingin, Dieng ini itu termasuk desa paling tinggi di Pulau Jawa! Bahkan pada waktu pertengahan Juli-Agustus bisa saja ada bunga-bunga es dan suhu udara mencapai minus derajat. Menurut orang sekitar siklus ini bisa terjadi 4-5 kali dalam kurun waktu ini. 

Luasnya Puncak Sikunir menawarkan berbagai komposisi untuk memotret
Irisan bukit-bukit nan menawan

Namun, suhu dingin waktu itu sama sekali gak membuat aku gemeteran kedinginan. Cahaya matahari bisa dibilang sangat hangat walaupun beberapa temenku masih aja kedinginan waktu itu. Tapi tetep aja, ini yang kita cari bung! Liburan seru dengan suasana asoy!




Ngopi biar asik!



Selasa, 05 Juni 2012

Kala Terik Menyengat

Meskipun gak jelas juga sih kapan hujan kapan panas tapi rasanya matahari emang gak pernah bosan membakar kulit dan menguras cairan tubuh. Kalo situasinya udah terik yakin deh, gak di rumah, gak dijalan gak di kampus(kayak rajin ke kampus aja.. -_-') bawaannya pasti pengen nyantai sambil minum es seger.

Keinget baru kemaren mampir ke warung ini jadi pengen kasih referensi  salah satu warung es favoritku di Jogja. Warungnya kecil, sedikit mblusuk dan bisa dibilang jadul atau bahasa kerennya sih "vintage". Namanya warung YS Sidosemi! Menurut cerita, ini warung emang patut diacungi empat jempol. Ada fakta-fakta unik di tempat ini; pertama warung ini tutup tiap hari Selasa, kedua selain menyediakan menu es warung ini juga sedia tepas, ketiga warung ini banyak digemari sama orang2 yang udah paruh baya. Selanjutnya silahkan mampir :p


Kalo mau tau ceritanya nih >> liputan pertama kerja di portal ini :)

Oia mungkin juga aku belum pernah cerita ke banyak orang kalo sejak januari tahun ini punya kerjaan nyotret buat salah satu portal wisata di Jogja.

Warung YS Sido Semi mBok Mul
Enak kalo habis gowes mampir :D


Daftar menu dan harga, murah kan? itu dulu :p

Daftar Harga dari tahun ke tahun masih tersimpan rapi :)


Es serut paling bikin seger



menu utamanya nih, sederhana tapi seger puas :D


Pesen es teh pun juga seger 


Limun, karat di tutupnya nambah suasana makin jadul. tapi isinya gak karatan kok :) 

Suasana warung dari balik jendela
Kipas, teman di kala panas


Tembok jadi rak pengering gelas














Kamis, 17 Maret 2011

#keluarkota : Surabaya

Gak kaya' lagunya shaggydog yang pergi ke desa-desa, tapi kali ini keluar kota ya masuk kota lagi; Surabaya!
Ibukota provinsi Jawa Timur ini memang cukup terkenal, paling tidak buat orang Indonesia. Sejarah Indonesia gak bisa lepas dari kota yang berjuluk Kota Pahlawan ini. Singkat cerita, atau bisa dibilang sekarang aku gak pengin cerita sejarah, ini cerita saya di kota Surabaya selama 1 hari.
Bisa dibayangkan rugi juga pergi jauh-jauh dari Jogja cuma buat sehari aja, yah namanya juga mahasiswa polos(baca: mahasiswa tingkat akhir), aku gak pengen bolos kuliah.

Photobucket

Berangkat naek bus patas jam 12 malam, sampe di Surabaya jam 7 kalo gak salah. Pikiran pertama sampae di kota ini adalah "Aku harus ke ITS sekarang juga!" Yap, itu tujuan utama mengapa aku mesti ke S'bya. Jadi aku dikasih tugas ceritanya buat menghadiri sebuah perhelatan buat para pencari kerja, alias bursa karir.

Ada satu pengalaman menarik sih; karena tugasku itu mengumpulkan berkas lamaran ke sebuah perusahaan ternama di Indonesia. Shock, aku liat orang2 muda ini pada kelaparan akan pekerjaan. yah, mereka mengantri puaaannnjaangnya buat masuk ke perusahaan ini. Anda Benar! Aku harus ikut antri juga.-_-a

Satu menit, dua menit, 10 menit, 1 jam..akhirnya sekitar satu jam aku hampir sampe di mulut pintu gerbang validasi berkas lamaran ini. Ternyata eh ternyata, aku liat mbak2 di depanku gak boleh masuk gara-gara gak punya cap panitia(baca: tiket) di tangan. Doeeng!!! Buat masuk ke ruangan itu harus beli tiket dulu!!!

Tanpa pikir panjang, dalam hati aku berucap "jangan sampai saya harus antri dari awal!"
gak ada 2 menit, sekarang giliranku; mas2 penjaga pintu bilang "capnya mana mas?"
"o..o...O...emmm...ini mas" sambil mengulurkan tangan kananku yang pake gelang.
masnya bingung sendiri liat tanganku, makin bikin deg-deg'an aja ni si mas pintu. beberapa detik terdiam, eh dia cuekin aku smbil liatin tangan orang lain yang punya cap.
Terpakulah aku ditempat itu liatin orang disebelahku langsung yang dibolehin masuk. Gak lama, setelah beberapa orang masuk masnya nengok ke aku dan aku menerjemahkannya sebagai "masuk aja mas!"
Huuffft...untung aja gak terjadi keributan..bisa gagal total misiku ke surabaya.

Jam setengah 3 aku selesai di bursa karir.Lalu pertanyaannya, aku ngapain lagi ya??
satu hal yang aku pengen adalah melihat kota Surabaya, untung aku pnya temen di ITS yang mau nemenin aku muterin kota ini. *tapi jujur pengen sendiri aja, sampe kesasar. Gak lengkap rasanya kalo belum melihat patung "ikan Sura dan Boyo". Hasilnya, seakan mendapat "ZonK" teryata patungnya cuma gitu doang di tengah jalan pinggir kebun binatang -_-a.
Oke, aku mau muter2 aja sama temenku ini, Patrick. dari Timur ke selatan, trus ke barat dan malamnya ke utara.
Photobucket
Sehabis liat patung suroboyo, aku diajak ke tanahnya pak Ciputra "Citraland". yang ini namanya kota di dalam kota. Super Elite.
gak dipungkiri, Pembangunan Surabaya emang yahud! sangat pesat! tapi sayangnya kalo aku liat pembangunannya gak melihat kondisi sosial masyarakatnya. kesenjangan seakan semakin digarisbawahi untuk segera dilihat orang dengan banyaknya pembangunan kota.

Photobucket
tak lupa kuliner yang cukup terkenal adalah Soto Lamongan! soto dengan koya yang bikin air liur makin netes2 kalo liat di meja. Daging ayamnya cukup banyak dikasihnya gak kayak di Jogja. apalgi kalo kita minta "balungan" bisa dikasih semangkok penuh!

Photobucket

Gak cukup sampai disini aja perjalananku di S'baya, mencoba mencari sebuah labenernya landmark kota ini sebenernya yang harus aku dapatkan. Untung saja aku punya temen kaya Petrick ini. Surabaya emang bener-bener kota yang luas banget. Yah, tapi ini bukan tipe kota yang aku suka seperti Jogja. kota ini udah hampir kayak Jakarta. Banalisasi dimana-mana.
Dan inilah satu hal yang mungkin saat ini bisa menggambarkan Surabaya yaitu Jembatan Suramadu. Jembatan sepanjang 5 km menghubungkan pulau Jawa dan Madura.

Photobucket

Cukup sudah ngemeng gak jelas hari ini. Menyenangkan sebenarnya berpetualang di kota gak perlu ke tempat wisata tapi melihat kehidupan sosial daerah lain. Menyelami dan memahami orang lain yang sama saekali tidak dikenal. Next time, harus lebih semangat!