Postingan ini kubuat untuk registrasi program Indonesia Travellers, karena di blog ini gak lengkap semua foto yang pernah dibikin semoga aja link dibawah ini sedikit banyak bisa jadi referensi. Tentu doanya juga :)
My Photostream on Flickr
http://www.flickr.com/photos/michaelaji/
Waktu tugas di Bali
http://bali.yogyes.com/en/see-and-do/
Pas ke Belitung
http://belitung.yogyes.com/en/pictures/http://belitung.yogyes.com/en/pictures/
- pemberhentian -
bukan berarti berhenti atau telah sampai pada tujuannya, namun mencoba untuk mencari makna dan melihat kembali perjalanan yang telah dilakukan selama ini.
Mencoba untuk belajar dari setiap langkah yang terangkum dalam gambar.
Mencoba untuk belajar dari setiap langkah yang terangkum dalam gambar.
Minggu, 04 November 2012
Sabtu, 03 November 2012
Jogja - Klaten via Gunung Kidul
Gak banyak kota besar di Indonesia, kalo emang mau nyebutin juga paling hafalan..Jakarta, Bandung, Surabaya, trus Yogyakarta ya selanjutnya banyak sih tapi aku yakin gak perlu pake survey juga orang-orang bakal nyebutin kota-kota diatas. Disebut kota besar biasanya sih gara-gara aktivitasnya, bisa kerjaan, bisnis atau lainnya seperti wisata, dan geografisnya. Nah satu hal yang menarik dari kota besar adalah pasti ada yang namanya "penglaju" atau "commuter". Mereka-mereka inilah yang mesti banting tulang alias bolak-balik ke kota tiap harinya supaya kota itu jadi besar.
Kota Yogyakarta, kota besar dimana aku berada sekarang adalah kota yang cukup bnyak menarik orang-orang daerah sekitar untuk beraktivitas disini entah buat kerja atau belajar, sebut aja Klaten, Magelang, Bantul, Gunung Kidul, dst. Karena aku dari Klaten sebenernya cocok juga jadi penglaju. Nah eksotbedanya kalo aku nih gak tiap hari pulang, jadi gak bisa dibilang "penglaju". Meskipun jarak Jogja-Klaten cuma sekitar 20an km dan bisa dibilang jalannya lurus doang tapi ternyata bisa lho jadi asik! hahaha
Beberapa hari kemaren, pas libur ada temen yang ngajak buat keluar dari kota. Entah kemanapun tujuannya yg penting pergi dari jogja. Akhirnya terpilihlah Wonosari, alias Gunung Kidul. Ngeliat daftar pantai yang katanya eksotis itu akhirnya kita mulai dari yang paling jauh, Pantai Wedi Ombo. Pantai satu ini punya cerita sendiri karena udah 2x kesana slalu gagal gara2 kecelakaan yg . Kali ini aku punya ambisi lebih untuksampai kesana! Jalanan disini emang sedikit asoy, kalo anak muda pasti bawaannya pengen ngebut kayak Jorge Lorenzo.
Dengan hati-hati dan penuh harapan untuk sampai di tujuan, akhirnya sampailah aku di pantai Wedi Ombo. Oia, untuk masuk ke pantai kita perlu masuk kita perlu bayar retribusi Rp 2500,-/orang. Hati-hati di tikungan terakhir yang cukup curam.
Bener aja pantai ini emang asoy bener! pantai pasir putih dengan karang-karang yang keren! Sayang sekali waktu itu aku samapi jam 12 siang. Tapi bagaimanapun juga karena ngakunya fotografer, mau gak mau aku mesti motret juga, kapan lagi kan kesini. bukannya gak seneng motret pantai, tapi aku sih ngrasa gak bisa bagus kalau motret pantai rasanya hambar semua. Tapi kalo para landscaper sejati pasti pantai ini bagaikan taman bermain yang sangat asyik, apalagi kalo datengnya jam 4 keatas. Aku sendiri karena dah kehabisan akal gimana bikin foto yg beda karena alat terbatas dan momen yg kurang tepat, bikin foto yg vertikal aja.
Kata masnya sih tinggal ikutin arah, intinya ita mesti lewatin Semin dan langsung menuju Klaten. Seperti dibohongi tapi juga selalu ada harapan di depan. kami lanjut aja yang penting nikmatin perjalanan apapun tujuannya. Goal kita masih tetap sama. Kesan yang aku dapat melewati jalanan Gunungkidul-Klaten adalah jalanan ini lebih sepi tapi lebih yahud pemandangannya kalo emang pengen hunting foto yang gak umum sebenernya bisa aja berhenti trus motret dulu tapi kayaknya waktu itu rumah seperti udah di depan mata. Jalan terus.
Sekitar dua jam kemudian saat badan mulai capek dan perut mulai lapar. Akhirnya kita sampai di perbatasan antara Gunung Kidul dan Klaten lebiih tepatnya di daerah Cawas. Waktu itu matahari cukup cantik menemani perjalanan kami. Sampai akhirnya aku bener-bener tergoda untuk berhenti menikmati sunset dulu ketika kendaraan yang kami tumpangi melewati hamparan sawah.
Langit memang cerah waktu itu, sedikit berawan namun justru menambah keindahan ciptaan Tuhan. Sunset menjadi ucapan selamat datang di Klaten saat itu, sekaligus mengingatkan kalo aku ini belum sampai rumah. Dengan kesabaran sampai harus beberapa kali bertanya pada penduduk sekitar untuk menuju ke rumah (maklum aku orang Klaten yang kurang kenal Klaten) akhirnya aku sampai di rumah sekitar jam delapan malam. Cukup molor dari perkiraan waktu sebelumnya tapi capek sepertinya hilang kalo udah sampai rumah.
Pengalamanku pulang lewat Klaten lewat Gunung Kidul kalo dipikir-pikir memang asyik juga. Banyak hal yang gak kita tahu dalam perjalanan kita mencapai tujuan, bahkan akhir dari perjalanan bisa saja berubah dari yang kita rencanakan sebelumnya. Namun cara dan sikap untuk melalui setiap proses menjadi kunci untuk mencapai keniscayaan akhir yang manis.
Kota Yogyakarta, kota besar dimana aku berada sekarang adalah kota yang cukup bnyak menarik orang-orang daerah sekitar untuk beraktivitas disini entah buat kerja atau belajar, sebut aja Klaten, Magelang, Bantul, Gunung Kidul, dst. Karena aku dari Klaten sebenernya cocok juga jadi penglaju. Nah eksotbedanya kalo aku nih gak tiap hari pulang, jadi gak bisa dibilang "penglaju". Meskipun jarak Jogja-Klaten cuma sekitar 20an km dan bisa dibilang jalannya lurus doang tapi ternyata bisa lho jadi asik! hahaha
Beberapa hari kemaren, pas libur ada temen yang ngajak buat keluar dari kota. Entah kemanapun tujuannya yg penting pergi dari jogja. Akhirnya terpilihlah Wonosari, alias Gunung Kidul. Ngeliat daftar pantai yang katanya eksotis itu akhirnya kita mulai dari yang paling jauh, Pantai Wedi Ombo. Pantai satu ini punya cerita sendiri karena udah 2x kesana slalu gagal gara2 kecelakaan yg . Kali ini aku punya ambisi lebih untuksampai kesana! Jalanan disini emang sedikit asoy, kalo anak muda pasti bawaannya pengen ngebut kayak Jorge Lorenzo.
![]() |
| Sepi dan berkelok-kelok dikelilingi bukit-bukit kecil khas jalanan Gunung Kidul :D |
Bener aja pantai ini emang asoy bener! pantai pasir putih dengan karang-karang yang keren! Sayang sekali waktu itu aku samapi jam 12 siang. Tapi bagaimanapun juga karena ngakunya fotografer, mau gak mau aku mesti motret juga, kapan lagi kan kesini. bukannya gak seneng motret pantai, tapi aku sih ngrasa gak bisa bagus kalau motret pantai rasanya hambar semua. Tapi kalo para landscaper sejati pasti pantai ini bagaikan taman bermain yang sangat asyik, apalagi kalo datengnya jam 4 keatas. Aku sendiri karena dah kehabisan akal gimana bikin foto yg beda karena alat terbatas dan momen yg kurang tepat, bikin foto yg vertikal aja.
Setelah beberapa kali jepretan kamera, kami cuma bisa habisin waktu dengan tidur2an di bawah pohon besar. Rindangnya pohon dan angin pantai adalah kombinasi yang sangat pas buat tidur, itupun masih ditambah pasir putih yang cukup kering tapi adem yang bikin lupa waktu kalo udah tiduran. Akhirnya setelah sekitar 3 jam "liyer-liyer" kita memutuskan buat pergi lagi, tapi suasana yg cukup tenang disana bikin aku juga pengen pulang Klaten. Jadi kepikiran rumah gitu, tapi gara2 udah terlanjuur di pucuk Gunung Kidul ya apa boleh buat. Perjalanan mesti dilanjutkan.
Rencananya sih ke Sri Gethuk, tapi ketika dijalan keluar dari Wedi Ombo kita ngeliat ada PLIK, teringat ada satu lomba foto yg berkaitan aku langsung berhenti minta ijin buat motret ke pengelolanya, mas Handoko. eh ternyata kita justru diajak ngobrol lama, sampai pada saat kehabisan topik pembicaraan. Topik umum yang adalah nanya2 jalan atau daerah setempat. Tanpa disangka-sangka, eh ternyata Klaten katanya lebih deket dari sini daripada ke Jogja!! Seakan diberi kesempatan, sampai lupa motret, pikiran cuma tertuju kalo perjalanan bisa dilanjutin ke rumah :D
![]() |
| Akhirnya perjalanan dilanjutkan ke Klaten :D |
Kata masnya sih tinggal ikutin arah, intinya ita mesti lewatin Semin dan langsung menuju Klaten. Seperti dibohongi tapi juga selalu ada harapan di depan. kami lanjut aja yang penting nikmatin perjalanan apapun tujuannya. Goal kita masih tetap sama. Kesan yang aku dapat melewati jalanan Gunungkidul-Klaten adalah jalanan ini lebih sepi tapi lebih yahud pemandangannya kalo emang pengen hunting foto yang gak umum sebenernya bisa aja berhenti trus motret dulu tapi kayaknya waktu itu rumah seperti udah di depan mata. Jalan terus.
Sekitar dua jam kemudian saat badan mulai capek dan perut mulai lapar. Akhirnya kita sampai di perbatasan antara Gunung Kidul dan Klaten lebiih tepatnya di daerah Cawas. Waktu itu matahari cukup cantik menemani perjalanan kami. Sampai akhirnya aku bener-bener tergoda untuk berhenti menikmati sunset dulu ketika kendaraan yang kami tumpangi melewati hamparan sawah.
![]() |
| Jalan antar desa yang begitu eksotis, seperti mengatakan "Perjalananmu masih jauh, nak!" |
![]() |
| Sunset yang cukup bikin pikiran kembali segar. Seorang kakek dengan sepedanya seakan mengingatkan kita untuk pulang juga. |
Langit memang cerah waktu itu, sedikit berawan namun justru menambah keindahan ciptaan Tuhan. Sunset menjadi ucapan selamat datang di Klaten saat itu, sekaligus mengingatkan kalo aku ini belum sampai rumah. Dengan kesabaran sampai harus beberapa kali bertanya pada penduduk sekitar untuk menuju ke rumah (maklum aku orang Klaten yang kurang kenal Klaten) akhirnya aku sampai di rumah sekitar jam delapan malam. Cukup molor dari perkiraan waktu sebelumnya tapi capek sepertinya hilang kalo udah sampai rumah.
Pengalamanku pulang lewat Klaten lewat Gunung Kidul kalo dipikir-pikir memang asyik juga. Banyak hal yang gak kita tahu dalam perjalanan kita mencapai tujuan, bahkan akhir dari perjalanan bisa saja berubah dari yang kita rencanakan sebelumnya. Namun cara dan sikap untuk melalui setiap proses menjadi kunci untuk mencapai keniscayaan akhir yang manis.
Sabtu, 29 September 2012
Hellooo??!
September udah mau selesai aja nih, berarti udah hampir setahun juga berita baik yang seharusnya gak jadi harapan kosong. Gak harus juga sih pilihan hidup itu ditunjukkan dengan prestasi, apalagi kalo prestasi yang gak seberapa tapi dilebih-lebihin. Tapi gimana pun juga prestasi juga bisa jadi tolok ukur bagi diri kita masing-masing tentang tantangan yang ada di depan mata.
Masih inget pengalamanku ikut sebuah lomba foto, bukan tanpa harapan kalo misalnya ikutan kompetisi, pasti pengen menang lah ya; entah karena hadiahnya atau prestise yang bakal didapat kalo bisa jadi pemenang. Ada gak sih orang yang menang lomba hadiahnya gak diambil? pokoknya yang penting juara gitu, kalau ada kasih tau dong? Gimanapun juga hadiah kan sebuah kontraprestasi buat hasil yang udah dikumpulkan, entah itu ide atau usaha atau pun keberuntungan tetap saja sebuah proses pasti membuahkan hasil.
Aku udah pernah beberapa kali ikut lomba foto kecil2an, banyak kalahnya juga sih, tapi ada juga beberapa yang emang dapet hadiah lumayan. Nah yang satu ini beda, lombanya sih dibilang skala nasional, diangkat media juga, jurinya oke2, tapi kok kabar ke akunya gak ada??!! Hellooo panitia!?
Pernah sih waktu itu ada yang hubungin kalo foto yang kumasukin ke lomba ini dapat nomnasi juara dan bakal dimasukin ke katalog gitu, tapi itu ngakunya yang nelpon si pembuat katalognya nanyain domisili dan pekerjaan. Nah dia bilang kalo pengumuman pemenangnya bakal dihubungi beberapa hari lagi..terlanjur seneng nih paling gak dapet uang saku tambahan, eh ternyata jadi lupa sendiri akunya saking lamanya gak ada kabar -_-'
Suatu saat aku inisiatif hubungin panitia, kalo gak salah sih namanya "ija", "harzil' dan "yayuk" ada yang kusms gak dibales. trus inisiatif telepon diberi kabar kalo udah lama dikirim tuh semua kontraprestasi yang harusnya kutrima?!! tapi kalo dikirim kenapa gak sampe, trus kenapa gak ada konfirmasi juga kalo aku udah dapet apa belom?? aneh gak sih?? Setelah aku critain kalo belom dapet tuh orang nyatet nomor hapeku buat dikonfirmasi lagi ke panitia yang ada, dan aku suruh tunggu kabarnya.
Nyatanya sampe sekarang pun aku gak pernah dapet kabar. Tunggu sampai kapan ya enaknya? :)
Masih inget pengalamanku ikut sebuah lomba foto, bukan tanpa harapan kalo misalnya ikutan kompetisi, pasti pengen menang lah ya; entah karena hadiahnya atau prestise yang bakal didapat kalo bisa jadi pemenang. Ada gak sih orang yang menang lomba hadiahnya gak diambil? pokoknya yang penting juara gitu, kalau ada kasih tau dong? Gimanapun juga hadiah kan sebuah kontraprestasi buat hasil yang udah dikumpulkan, entah itu ide atau usaha atau pun keberuntungan tetap saja sebuah proses pasti membuahkan hasil.
Aku udah pernah beberapa kali ikut lomba foto kecil2an, banyak kalahnya juga sih, tapi ada juga beberapa yang emang dapet hadiah lumayan. Nah yang satu ini beda, lombanya sih dibilang skala nasional, diangkat media juga, jurinya oke2, tapi kok kabar ke akunya gak ada??!! Hellooo panitia!?
![]() |
| Diambil dari http://issuu.com/lionmagazine/docs/lionmag_november_2011 |
![]() |
| fotoku baru dibawa juri yang ditengah tuh.. (diambil dari: http://www.fotografer.net/images/forum/3/3194/3194506/3194506236.jpg) |
Pernah sih waktu itu ada yang hubungin kalo foto yang kumasukin ke lomba ini dapat nomnasi juara dan bakal dimasukin ke katalog gitu, tapi itu ngakunya yang nelpon si pembuat katalognya nanyain domisili dan pekerjaan. Nah dia bilang kalo pengumuman pemenangnya bakal dihubungi beberapa hari lagi..terlanjur seneng nih paling gak dapet uang saku tambahan, eh ternyata jadi lupa sendiri akunya saking lamanya gak ada kabar -_-'
Suatu saat aku inisiatif hubungin panitia, kalo gak salah sih namanya "ija", "harzil' dan "yayuk" ada yang kusms gak dibales. trus inisiatif telepon diberi kabar kalo udah lama dikirim tuh semua kontraprestasi yang harusnya kutrima?!! tapi kalo dikirim kenapa gak sampe, trus kenapa gak ada konfirmasi juga kalo aku udah dapet apa belom?? aneh gak sih?? Setelah aku critain kalo belom dapet tuh orang nyatet nomor hapeku buat dikonfirmasi lagi ke panitia yang ada, dan aku suruh tunggu kabarnya.
Nyatanya sampe sekarang pun aku gak pernah dapet kabar. Tunggu sampai kapan ya enaknya? :)
Senin, 10 September 2012
Mencari Kehangatan di Bukit Sikunir
Hello world! =)
Banyak orang bilang Juli - Agustus merupakan saat yang tepat untuk liburan, apalagi kalau pengen lihat sunrise ataupun sunset. Liburan kali ini aku bareng 7 temen sepakat buat camping, awalnya kita udah rencanain jauh2 hari biar bisa liburan bareng bulan Agustus tapi karena ada beberapa kesempatan buat kejar setoran akhirnya kita baru bisa berangkat awal September. Rencananya si ke Rawa Pening biar dapet sunrise oke kayak foto-foto yang pernah kita liat, selain itu juga bisa ngrasain yang namanya "mancing mania". Tapi akhirnya setelah kita sampai tujuan dari rencana kita "angin" membawa kita untuk camping di daerah Dieng, tepatnya di tepi Telaga Cebongan.
Kali ini kita emang gak mau camping yang biasa, kita pengen bener-bener heppan, dan lokasi camping kita kali ini emang mampu membayar apa yang ada dalam bayangan kita sebelumnya jauh dari ekspetasi kita di rawa pening. Bener aja kita bisa mendirikan tenda di pinggir telaga yang lokasinya tidak terlalu jauh dari pemukiman warga namun cukup bisa memberikan kebebasan untuk bersenang-senang.
Tempat ini pun seakan menawarkan sunrise yang menakjubkan seperti yang diceritakan banyak warga yaitu di Bukit Sikunir. Puncak bukit ini bisa ditempuh sekitar 45 menit dari lokasi kita camping. Kami pun tidak ingin ketinggalan menikmati indahnya sunrise dari puncak Sikunir. Kami berangkat pukul 04.00 dari Telaga Cebongan.
Ternyata memang bukan hanya rombonganku aja yang pengen liat fajar dari puncak ini, bahkan bisa dikatakan sangat rame. Maklum kita pergi bertepatan sama weekend. Bahkan ada beberapa rombongan yang mendirikan tenda di puncak bukit, mungkin saja mereka tidak ingin berjudi dengan kemalasan karena begitu dinginnya udara di Dieng. Kadang emang dingin bisa buat kita jadi malas untuk ngapa2in termasuk melihat sunrise. Perlu diketahui, satu temen batakku malas ikut ke puncak dan memilih tidur di tenda karena dingin. Ngomong-ngomong soal dingin, Dieng ini itu termasuk desa paling tinggi di Pulau Jawa! Bahkan pada waktu pertengahan Juli-Agustus bisa saja ada bunga-bunga es dan suhu udara mencapai minus derajat. Menurut orang sekitar siklus ini bisa terjadi 4-5 kali dalam kurun waktu ini.
Namun, suhu dingin waktu itu sama sekali gak membuat aku gemeteran kedinginan. Cahaya matahari bisa dibilang sangat hangat walaupun beberapa temenku masih aja kedinginan waktu itu. Tapi tetep aja, ini yang kita cari bung! Liburan seru dengan suasana asoy!
Banyak orang bilang Juli - Agustus merupakan saat yang tepat untuk liburan, apalagi kalau pengen lihat sunrise ataupun sunset. Liburan kali ini aku bareng 7 temen sepakat buat camping, awalnya kita udah rencanain jauh2 hari biar bisa liburan bareng bulan Agustus tapi karena ada beberapa kesempatan buat kejar setoran akhirnya kita baru bisa berangkat awal September. Rencananya si ke Rawa Pening biar dapet sunrise oke kayak foto-foto yang pernah kita liat, selain itu juga bisa ngrasain yang namanya "mancing mania". Tapi akhirnya setelah kita sampai tujuan dari rencana kita "angin" membawa kita untuk camping di daerah Dieng, tepatnya di tepi Telaga Cebongan.
![]() |
| Telaga Cebongan, Dieng |
Kali ini kita emang gak mau camping yang biasa, kita pengen bener-bener heppan, dan lokasi camping kita kali ini emang mampu membayar apa yang ada dalam bayangan kita sebelumnya jauh dari ekspetasi kita di rawa pening. Bener aja kita bisa mendirikan tenda di pinggir telaga yang lokasinya tidak terlalu jauh dari pemukiman warga namun cukup bisa memberikan kebebasan untuk bersenang-senang.
Tempat ini pun seakan menawarkan sunrise yang menakjubkan seperti yang diceritakan banyak warga yaitu di Bukit Sikunir. Puncak bukit ini bisa ditempuh sekitar 45 menit dari lokasi kita camping. Kami pun tidak ingin ketinggalan menikmati indahnya sunrise dari puncak Sikunir. Kami berangkat pukul 04.00 dari Telaga Cebongan.
![]() |
| Pemandangan Gunung Sindoro dari Puncak Bukit Sikunir |
![]() |
| Ramai-ramai mengabadikan Sunrise Sikunir |
Ternyata memang bukan hanya rombonganku aja yang pengen liat fajar dari puncak ini, bahkan bisa dikatakan sangat rame. Maklum kita pergi bertepatan sama weekend. Bahkan ada beberapa rombongan yang mendirikan tenda di puncak bukit, mungkin saja mereka tidak ingin berjudi dengan kemalasan karena begitu dinginnya udara di Dieng. Kadang emang dingin bisa buat kita jadi malas untuk ngapa2in termasuk melihat sunrise. Perlu diketahui, satu temen batakku malas ikut ke puncak dan memilih tidur di tenda karena dingin. Ngomong-ngomong soal dingin, Dieng ini itu termasuk desa paling tinggi di Pulau Jawa! Bahkan pada waktu pertengahan Juli-Agustus bisa saja ada bunga-bunga es dan suhu udara mencapai minus derajat. Menurut orang sekitar siklus ini bisa terjadi 4-5 kali dalam kurun waktu ini.
![]() |
| Luasnya Puncak Sikunir menawarkan berbagai komposisi untuk memotret |
![]() |
| Irisan bukit-bukit nan menawan |
Namun, suhu dingin waktu itu sama sekali gak membuat aku gemeteran kedinginan. Cahaya matahari bisa dibilang sangat hangat walaupun beberapa temenku masih aja kedinginan waktu itu. Tapi tetep aja, ini yang kita cari bung! Liburan seru dengan suasana asoy!
![]() |
| Ngopi biar asik! |
Langganan:
Postingan (Atom)

















